ARTIKEL TERBARU


Resika Caesaria bersama para mitra cimolnya.
Penolong Saya Itu Bernama Cimol
2017-07-31

Pernahkah terbayang, sebuah jajanan lokal asal Bandung, yaitu cimol ternyata mampu menyelamatkan pendidikan seorang perempuan? Tak hanya menyelamatkan pendidikannya, makanan gurih berwarna putih yang terbuat dari tepung aci tersebut, ternyata mampu membuka jalan rezeki bagi ratusan orang.

Di tangan Resika Caesaria Priyono, perempuan kelahiran Banyumas 5 Mei 1991 ini, cimol mampu menjadi peluang usaha yang tak hanya fokus pada laba, tetapi lebih kepada nilai sosialnya. Saat ini sekitar 1 kwintal tepung terigu mampu menghasilkan 28.000 cimol per hari, dipasarkan oleh 200 gerai yang tersebar di beberapa kabupaten di Jawa Tengah. Made Arizka, itulah nama usaha kecil menengah (UKM) yang kemudian menjadikan Resika sebagai salah satu penerima apresiasi SATU Indonesia Awards tahun 2014 silam.

Cika, begitulah Resika Caesaria akrab dipanggil. Anak bungsu Keluarga Priyono ini bukan merintis usaha cimolnya dengan bantuan modal besar atau hanya berjualan untuk mengisi kekosongan waktu di sela studinya. Ketiadaan seorang ibu, ditambah ayahnya yang sudah tua, membuat tahun 2005 menjadi masa yang cukup sulit baginya. Sang ayah adalah pengemudi truk yang penglihatannya sudah mulai berkurang karena dimakan renta.

Akhirnya, tamat pendidikan sekolah menengah pertama (SMP), dengan melawan rasa malu ia mulai menjajakan batagor (makanan khas Sunda terbuat dari tepung, digoreng, dan disajikan bersama saus kacang) di sekolahnya. Namun pada saat itu dia adalah penggemar cimol dan merasa bahwa potensi usaha makanan tersebut lebih menjanjikan. Dimulailah benih kesuksesannya dengan membuat cimol dan menitipkannya ke kantin sekolah.

Sembari merintis usahanya, Cika terus menerus melakukan inovasi hingga akhirnya pasarannya ramai. Bahkan, pembeli mulai berdatangan ke rumahnya untuk membeli cimol yang masih hangat.

“Sejak jualan di rumah, mereka lebih sering membeli di sini karena mencari cimol yang masih hangat,” tuturnya.

Lulus dari SMA, ia meneruskan berjualan di sekitar kampusnya di STIKES Harapan Bangsa, Purwokerto. Akhirnya, tak hanya pendidikannya yang berhasil ia tempuh dengan keringat sendiri, bahkan ia dapat merenovasi rumah keluarganya serta membeli kendaraan.

Tak hanya itu, Made Arizka pun telah memperoleh hak patennya dari pemerintah. Cika, pada dasarnya adalah seorang perempuan berjiwa sosial dan dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama. Keberhasilannya itu tak membuatnya melupakan orang lain.

Semangat menolong orang lain, membawanya pada sistem waralaba gratis pada tahun 2009 yang kemudian turut membesarkan nama Made Arizka.

“Saya sudah tertolong oleh cimol, saya juga ingin cimol ini menolong orang lain,” ujarnya penuh gairah. Sistem waralaba gratis ini didasari oleh tingginya masalah pengangguran dan kemiskinan, sedangkan masyarakat sekitar Banyumas jarang yang memiliki keahlian khusus untuk memulai usaha, ditambah modal besar dan biaya untuk franchise yang cukup tinggi.

Itulah tantangan yang ingin dijawab Cika melalui usahanya. “Saya hanya menerima mitra orang yang tidak mampu, yang akan berjualan cimol sendiri, bukan mereka yang punya modal besar dan merekrut karyawan lagi untuk menjualkannya,” ungkapnya.

Tak hanya gratis, mitra waralaba akan mendapatkan gerobak dan perlengkapan jual secara cuma-cuma. Cika sungguh tak ingin tanggung-tanggung dalam berusaha mengentaskan kemiskinan, melalui cimol yang dulu menyelamatkan dirinya.

Tahun 2010 merupakan awal ia membuka cabang mitra pertamanya, hingga pada tahun 2011-2013 ia memiliki sebanyak 25 mitra. Tak tanggung-tanggung, setelah pada tahun 2014 dinobatkan sebagai peraih apesiasi SATU Indonesia Awards bidang kewirausahaan, kini ia memiliki sekitar 200 mitra.

“Usaha sosial itu tolok ukur keberhasilannya terletak pada seberapa jauh manfaat usaha itu dapat dinikmati oleh masyarakat,” tambah gadis cantik ini. Itulah yang mendasari Cika meneruskan sistem waralaba gratis yang bahkan ia pun tak mengambil keuntungan persenan, tetapi hanya berasal dari hasil penjualan bahan baku para mitranya. “Saya hanya mengambil keuntungan dari penjualan bahan baku, itu pun hanya sedikit sekali,” paparnya.


Artikel Terkait
Astra Kunjungi Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2012
Menurut Pipit, satu dari 9.000 anggota Perpustakaan Anak Bangsa, dirinya suka membaca buku di Perpus...
Baca Selengkapnya
Partisipasi Grup Astra bersama TNI
BANDUNG : PT Astra International Tbk pada hari ini (2/4) kembali ikut berpartisipasi dalam program T...
Baca Selengkapnya
Pencarian Pemuda-pemudi Penggerak Kemajuan Bangsa, dimulai!
JAKARTA: Pencarian pemuda-pemudi penggerak kemajuan bangsa melalui Semangat Astra Terpadu Untuk (SAT...
Baca Selengkapnya
Emil Salim: Pemuda Merauke Harus Mampu Menciptakan Perubahan
MERAUKE: Pemuda Merauke harus mampu jadi agen perubahan Indonesia yang dimulai dari kampong halamann...
Baca Selengkapnya
IKUTI KAMI
Pastikan Anda selalu terhubung dengan media
sosial kami. #SATUIndonesia