Menu

ARTIKEL & BERITA

Lima Tahun SATU Indonesia Awards, Astra Gelar Tiga Rangkaian Program Utama

25 Nov 2014


JAKARTA: Pelaksanaan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards telah memasuki tahun kelima. Setidaknya ada tiga rangkaian program utama yang  diselenggarakan PT Astra International Tbk (Astra). Selain menganugerahkan apresiasi SATU Indonesia Awards kepada lima orang penerima apresiasi di bidang Pendidikan, Lingkungan, Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Kesehatan serta Teknologi, tahun ini SATU Indonesia Awards dimeriahkan dengan peluncuran buku 40 Tahun CSR Astra Melangkah Maju Bersama Indonesia, serta Konser SATU Indonesia.    

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun 2014 bertepatan dengan lima tahun SATU Indonesia Awards, Manajemen Astra mengangkat tiga program yang intinya untuk lebih meluaskan kiprah Astra dalam kepedulian kepada masyarakat, sejalan dengan butir pertama filosofi Astra (Catur Dharma), yaitu Menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.

“Kami ingin pemberian apresiasi SATU Indonesia Awards tahun kelima ini benar-benar dirasakan oleh pemangku kepentingan (stakeholder). Tiga program utama tersebut merupakan langkah nyata untuk meneruskan semangat SATU Indonesia yang senafas dengan filosofi Astra, yaitu Catur Dharma,” ujar Presiden Direktur Astra Prijono Sugiarto dalam acara CEO Sharing, Selasa, 25 November 2014.

Menyinggung soal perkembangan peserta SATU Indonesia Awards lima tahun terakhir, Prijono Sugiarto mengungkapkan : "Kami bersyukur bahwa para pemuda-pemudi yang berminat untuk menjadi calon penerima apresiasi SATU Indonesia Awards ini terus bertambah dari tahun ke tahun."

Melonjak 1.427%

Bila tahun 2010, para peminat masih berjumlah 120 orang, tahun berikutnya pada 2011 menjadi 492 orang. Kemudian secara berturut-turut pada tahun 2012 dan 2013, angka itu terus meningkat menjadi 1.088 dan 1.606 orang. Pada tahun ini jumlahnya mencapai 1.833, mengalami kenaikan sebesar 14% dibanding tahun sebelumnya. Ringkasnya, dalam lima tahun (dari 2010 sampai 2014), jumlah peminat SATU Indonesia Awards ini melonjak 1.427%. Suatu peningkatan yang luar biasa dan membanggakan kita semua.

Apresiasi SATU Indonesia Awards ini merupakan apresiasi bagi individu generasi muda yang berusia maksimal 35 tahun, berkarya dan memberikan manfaat berkesinambungan minimal selama dua tahun bagi masyarakat sekitarnya dalam lima bidang; Pendidikan, Lingkungan, Usaha Kecil dan Menengah, Kesehatan dan Teknologi.

Kriteria seleksi secara komprehensif dilakukan dengan melihat lima hal; Motive (motivasi atau latar belakang dilaksanakannya kegiatan); Outcome (hasil dari kegiatan yang diciptakan); Outreach (jumlah dan dampak perubahan pada masyarakat); Obstacle (rintangan dalam menjalankan kegiatan); Sustainability (keberlanjutan kegiatan).

26 November 2014

Apresiasi SATU Indonesia Awards 2014 akan diselenggarakan pada hari berikutnya, Rabu, 26 November 2014. Pada acara tersebut juga diluncurkan buku 40 Tahun CSR Astra Melangkah Maju Bersama Indonesia, serta malamnya dilanjutkan dengan Konser SATU Indonesia bagi seluruh pemangku kepentingan Astra.

Konser SATU Indonesia mengangkat tema “Salute to Guruh Sukarno Putra.” Dalam konser ini, karya-karya emas Guruh akan diaransemen ulang oleh Erwin Gutawa dan dinyanyikan oleh para penyanyi generasi muda, yaitu Raisa, Tulus, Judika, RAN, Superman is Dead, The Overtunes, Nowela, Anak Di atas Rata-rata (DARR), German Dmitriev, I Gusti kompiang Raka dan Kinarya GSP.  

Dengan mengusung Jay Subyakto sebagai pengarah seni, konser yang diselenggarakan pada 26 November 2014 pukul 20.00 – 22.00 di Plenary Hall Jakarta Convention Center (JCC) ini diharapkan dapat memberikan motivasi kepada generasi muda Indonesia, bahwa memajukan bangsa bisa melalui berbagai bidang, salah satunya adalah seni.          

Buku 40 Tahun CSR Astra

Meski kepedulian Astra terhadap masyarakat sekitarnya telah berlangsung lama, baru tahun ini tulisan tentang kegiatan tersebut dibukukan secara komprehensif. Menurut penulisnya, Prof. Gunawan Sumodiningrat, ide dasar dari buku ini adalah mendokumentasi berbagai kegiatan corporate social responsibility (CSR) Astra yang begitu banyak ragam dan kegiatannya sekaligus melihat keunikan dari masing-masing kegiatan tersebut.

“Diharapkan buku ini dapat menjadi inspirasi bagi para pembaca serta perusahaan lain di tanah air,” ujar Prof. Gunawan Sumodiningrat. Kegiatan CSR Astra telah dimulai pada tahun 1974 yang ditandai oleh pendirian Yayasan Toyota dan Astra, satu dari sembilan yayasan yang ada dalam Grup Astra. Pada periode tahun yang sama, William Soeryadjaya sebagai pendiri Astra, waktu itu menyerahkan bantuan 337 mobil ambulan kepada Menteri Perindustrian RI (1964-1974) M. Jusuf yang kemudian diserahkan kepada Menteri Kesehatan Siwabessy. Inilah dua titik awal sejarah bagi perkembangan CSR Astra di waktu berikutnya.

Buku setebal 392 halaman ini menceritakan kegiatan CSR Astra bersama anak perusahaannya serta sembilan yayasan yang ada dalam Grup Astra. Buku ini menelaah empat pilar utama CSR yang ditangani Astra, yakni Pendidikan, Lingkungan, Usaha Kecil Menengah dan Kesehatan. Sekaligus juga bisa dilihat pencapaian dari masing-masing pilar tersebut. Beberapa kisah sukses ditampilkan agar menjadi inspirasi bagi perusahaan lain yang memiliki kepedualian serupa.

5 Finalis dari berbagai provinsi

Berikut ini adalah kiprah lima finalis SATU Indonesia Awards 2014 yang berasal dari berbagai provinsi :

1. Irwan Bajang (Sleman, Yogyakarta) “Si Penular Virus Menulis”

Goresan pena lebih tajam dari sebuah pedang. Pepatah ini rasanya pas untuk menggambarkan upaya Irwan Bajang dalam menularkan virus betapa pentingnya kemampuan menulis. Sastrawan muda dan penulis asal Yogyakarta ini merupakan pendiri lembaga pendidikan tulis-menulis yang diberi nama ‘Independent School’. “Kami membuka pula kelas menulis jarak jauh atau di dunia maya sehingga bisa menjangkau wilayah dan peserta yang lebih luas,” ujar Irwan. Ia juga telah berkeliling ke beberapa sekolah, kampus dan komunitas untuk memberikan workshop gratis tentang kemampuan menulis dan penerbitan buku.

Tidak hanya ke lembaga pendidikan saja, Bajang membentuk kelas menulis dan penerbitan bukunya di mana saja, mulai dari kafe sampai di warung kopi. Pemimpin Redaksi Indie Book Corner itu juga menggandeng penulis-penulis lokal untuk berbagi ilmu.    

2. Maharani (Lombok Timur,NTB) “Sahabat Petani Gaharu”

Di balik hamparan tanah kering yang membentang luas, ada satu sosok yang tak kenal lelah menghijaukan Nusa Tenggara Barat (NTB). Adalah Maharani yang selalu meyakini penghijauan menjadi satu-satunya cara agar kondisi di sana tidak semakin memburuk. Menanam pohon gaharu menjadi tumpuan Maharani dalam menghijaukan NTB.      

Di dalam pohon gaharu, yang selama ini tumbuh liar di hutan-hutan NTB, terdapat gubal, sebuah lapisan yang menyerupai kayu hitam yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan pengikat (fiksatif) berbagai jenis parfum, kosmetika, aromaterapi, obat-obatan herbal dan bahan baku hio atau dupa yang memiliki nilai jual tinggi.      

Maharani pun menyebarkan ilmu dan teknologi budidaya pohon gaharu. Setelah sejumlah petani berhasil memanen gubal, Maharani mengajak warga lain beramai-ramai menanam pohon gaharu agar dapat meningkatkan taraf ekonomi mereka.         

3. Resika Caesaria (Banyumas, Jawa Tengah) “Ratu Cimol Banyumas”

Jika berusaha, selalu ada jalan. Itu pula yang dialami Resika ketika memiliki ide membuat cimol untuk menopang ekonomi keluarganya saat itu. Lambat laun Cimol, kudapan berbahan baku tepung singkong, buatan Resika ini semakin banyak diminati pembeli.      

Sambil kuliah, ia membuka gerai di dekat kampusnya. Melalui promosi dan kemitraan dengan beberapa pedagang, Resika pun mulai menerapkan waralaba gratis untuk mengembangkan usahanya. “Saya sudah tertolong oleh cimol, saya juga ingin cimol ini menolong orang lain,” ucapnya.              

Setelah sembilan tahun berjalan, saat ini ada 60 orang dari 10 kecamatan yang berasal dari kalangan pengangguran dan ekonomi lemah yang menjadi mitra usaha berjualan cimol.        

4. Marselinus Wellip (Distrik Towe, Keerom, Papua) “Sang Mantri Dari Hutan Distrik Towe”

Menembus rimba, menyisir gunung dan menyeberangi sungai akrab dengan keseharian Marsellinus Wellip. Pria ini membaktikan diri sebagai perawat atau mantri di Puskesmas Distrik Towe, yang berada di tengah hutan tropis di pedalaman Papua.          

Jabatan sebagai Kepala Tata Usaha Puskesmas Arso, Keerom dilepasnya demi membantu 1.900 jiwa dengan berjalan kaki menembus sulitnya medan di Papua rimba selama satu hingga dua hari. Tidak hanya kendala geografis, ia juga harus mengubah pola pikir masyarakat pedalaman yang belum mengenal hidup sehat. “Mengajarkan kepada masyarakat bagaimana cara mandi, sikat gigi, mengganti dan mencuci pakaian, buang air pada tempatnya dan tidak meludah pinang sembarangan saja bukan main susahnya,” tutur Marselinus. Namun jika ia berhasil, kepuasan batinnya tidak bisa dikalahkan oleh apa pun.

5. Idham Aulia (Surabaya, Jawa Timur) “Teknologi Kapal Pembersih Sampah”

Inovatif tak hanya menjadi strategi andalan perusahaan. Idham, mahasiswa asal Surabaya ini, juga memiliki pemikiran inovatif. Salah satu karya yang diciptakan bersama empat temannya adalah The Ganers, kapal pembersih sampah di perairan dangkal.       

Ia sangat ingin mengembalikan kejayaan Indonesia di bidang kelautan. Idham meyakini kapal ini sangat dibutuhkan untuk membersihkan sampah, seperti di Teluk Jakarta karena persoalan sampah di sana tak pernah diselesaikan dengan baik. Akibatnya, banyak ikan yang mati di Teluk Jakarta, sehingga nelayan setempat kehilangan pekerjaannya.         

Menular virus positif

Ke-25 mutiara bangsa di atas diharapkan dapat menularkan virus-virus positifnya kepada seluruh generasi muda Indonesia agar dapat menjadi penggerak kemajuan bangsa.

SATU Indonesia merupakan langkah nyata dari Grup Astra untuk berperan aktif serta memberikan kontribusi meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia melalui karsa, cipta dan karya terpadu untuk memberikan nilai tambah bagi kemajuan bangsa Indonesia.           

Pada prinsipnya di mana pun instalasi Astra berada, harus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya, sesuai dengan butir pertama filosofi Catur Dharma, yaitu “Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara.”